Dulu siapa yang tahu ASICS? Merek sepatu ini seperti tenggelam dan tidak terdengar di tengah persaingan pasar yang menggila dilakukan oleh perusahaan sepatu olah raga kenamaan sekelas Adidas atau Nike.
Kihachiro Onitsuka menjadi tokoh penting dibalik berdirinya perusahaan sepatu yang awalnya bernama Onitsuka Co. Ltd. Pada tahun 1949 di Kobe, Jepang ia memulai perjalanannya dengan membuat sepatu basket dalam rangka memenuhi kebutuhan para pemaian bintang olah raga basket.
Debut awal Onitsuka ini tampaknya kurang berhasil, desain sepatu yang menyerupai sandal jerami tidak begitu disukai oleh banyak pihak. Kegagalan pada debut pertamanya tidak membuat dirinya menyerah, Kihachiro Onitsuka yang pernah menjabat sebagai perwira militer ini tidak menyerah dan terus mengembangkan produknya agar sesuai dengan kebutuhan para pemain basket profesional.
Tidak memiliki pengalaman dalam pembuatan sepatu bukan masalah baginya, riset terus menerus yang ia lakukan akhirnya mendapatkan hasil positif. Pada percobaan berikutnya ia kembali melepas sepatu basket dan kali ini mereka memperbarui desain pada bagian sol sepatu yang membentuk seperti cangkir dengan beberapa ruang untuk membuat sepatu lebih efektif.
Sejak saat itu perusahaan sepatu tertua di Jepang ini terus mempersluas koleksinya dan di tahun 1951 mereka merilis sepatu voli pertamanya yang disambut dengan kesuksesanOnitsuka Co. Ltd secara internasional dan bahkan menjadi pilihan paling populer di kalangan atlet Olimpiade.
Ada cerita menarik seiring kesuksesan mereka dan menjadi sejarah atas berdirinyaASICS. Ketika itu perusahaan ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan pelari maraton Abebe Bikila. Pria kelahiran Ethiopia ini sering kali berlari tanpa menggunakan alas kaki, begitu pun dengan yang ia lakukan ketika olimpiade di Roma pada tahun 1960.
Meskipun ia berlari tanpa alas kaki, Bikila berhasil meraih juara dalam waktu rekor dunia sekaligus mencatat sejarah sebagai pelari kulit hitam pertama yang menerima medali emas Olimpiade.
Keberhasilannya meraih juara, menarik perhatian Kihachiro Onitsuka untuk melakukan kerja sama. Empat tahun kemudian, sebelum Olimpiade 1964 di Tokyo ia pun melakukan negosiasi dengan Bikila dan meyakinkannya agar mau menggunakan ASICS ketika Olimpiade dimulai.
Pinangan tersebut pun disambut positif hingga pada akhirsnya Bikila menggunakanASICS untuk Olimpiadenya di Tokyo. Kemenangan pun kembali diraihnya dalam waktu rekor dunia dan menjadi atlet yang pertama untuk memenangkan emas Olimpiade di maraton Olimpiade secara berturut-turut.
Hubungan antara keduanya terus menerus membaik hingga Bikila tutup usia. Ketika ituASICS menyumbangkan satu juta dolar kepada Unicef untuk mengenang pelari luar biasa tersebut.
Tidak sampai 1977, Onitsuka Co pun berubah nama menjadi ASICS. Nama tersebut diambil dari singkatan bahasa latin “Anima Sana In Corpore Sano” yang memiliki arti “pikiran yang sehat dalam tubuh yang sehat.”
Setelah pergantian nama yg dilakukan tersebut ASICS terus menjadi favorit di antara atlet Olimpiade sepanjang 20 dan abad ke-21. Produk sepatu lari yang mereka bawa dianggap menjadi salah satu yang terbaik di dunia.
Di Indonesia sendiri khususnya Jakarta, sepatu Onitsuka juga sempat menjadi trend dan tersebar di mana-mana. Tidak sulit untuk mendapatkan sepatu Onitsuka dikalai itu, pasar sekelas Taman Puring pun menyediakan sepatu tersebut ditiap sudut.
Pada tahun 2013-2014 seiring berjalannya waktu, dan sneakers mulai menggila, ASICSpun melakukan beberapa terobosan baru dengan berkolaborasi bersama Extra Butter, retailer asal New York untuk menciptakan ‘Death List 5′ pack yang terdiri Asics Gel Saga “Cottonmouth”, Asics Gel Lyte III “Copperhead”, Asics Gel Epirus “California Mountain Snake”, Asics GT-Cool “Sidewinder”, dan Asics Gel Lyte V “Snake Charmer”.
Kemunculan sneakers ini semakin membawa mereka kepuncak kesuksesan. Desain sepatu, pola, dan warna yang mereka tampilkan jauh lebih berkembang sehingga membuat ASICS menjadi salah satu sneakers yang diburu di berbagai dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar