Senin, 15 Desember 2014

The Story About Saucony

scvsdvs 

Jika dibandingkan dengan perusahan sepatu lainnya merek yang satu ini jauh lahir lebih dulu dan menjadi salah satu produsen sepatu tertua yang masih ada sampai detik ini. Sayangnya mereka yang yang sudah melalui berbagai proses kurang lebih selama 111 tahun tidak terlalu terdengar namanya dan justru seakan tenggelam di tengah pasar yang menawarkan keindahan bentuk dan warna dari masing-masing sepatu yang ditawarkan produsen lainnya.
Melihat jauh kebelakang, ketika tahun 1889, muncul empat pengusaha dari Kutztown, Pennsylvania, yang bekerja sama untuk memproduseni dan memproduksi sepatu untuk orang dewasa dan sneakers untuk anak-anak.
Nama Saucony sendiri mereka pilih dan diambil dari nama penduduk asli Amerika yang memiliki arti “mouth of a creek or river”. Karena keindahan kawasan disana, logo yang mereka ciptakan juga terinspirasi dari tepi sungai, logo Saucony dibuat siluet menukik yang menyerupai dengan aliran konstan di sungai. Dan jika kamu melihat tiga potongan bulat di tengah logo, itu merupakan batu-batu yang melapisi lantai sungai.
Setelah berjalan lancar dengan produksi sepatu dewasa dan sneakers untuk anak, Saucony memperluas koleksinya dengan memperkenalkan sepatu lari. Perjalanan mereka dalam meraih keberhasilan pun tidak lantas semudah yang diperkirakan. Setelah bersenang-senang dengan yang mereka hasilkan, keempat pengusaha tersebut justru memutuskan untuk menjualnya kepada Abraham Hyde yang pada saat itu dimiliki AR Hyde & Sons.
Abraham Hyde adalah sosok penting selama perjalanan Saucony hingga saat ini. Ia merupakan imigran Rusia yang berpindah ke Amerika Serikat dan mengambil tempat tinggal di Cambridge, Massachusetts sebagai pembuat sepatu.
Pada tahun 1910, ia berhasil membuka toko sendiri di jalanan Cambridge yang menjual jenis sepatu yang disebut “carpet slippers”, sepatu yang dibangun dari potongan-potongan tua dan dari karpet yang sudah tidak terpakai.
Setelah selama 22 tahun hanya bertahan dengan sepatu yang mengolah bahan karpet tidak terpakain, Abraham memutuskan untuk melakukan sesuatu yang lebih keren dari pada “carpet slippers”. Hingga pada akhirnya di tahun 1932 ia memperkenalkan sepasang sepatu kets yang di mulai dari baris sepatu atletik dan sepatu bowling, sepatu roda hingga sepatu bisbol di tahun 1938.
Memasuki era Perang Dunia II selama 40-an tentara AS terlibat di dalamnya, Saucony juga ternyata turut andil dalam sejarah tersebut. Abraham Hyde melalui A.R. Hyde & Sons ditugaskan oleh tentara AS untuk memproduksi sepatu bagi tentara dalam perang. Meskipun perang adalah peristiwa misfortunate Abraham Hyde tetap mampu untuk berbisnis menghasilkan keuntungan yang bagus pada waktu itu melalui sepatu boot yang dibuatnya.
Selain ikut berperan besar dalam perang dunia II, NASA meminta Abraham Hyde memproduksi sepatu untuk para astronot menuju ke kosmos. Ketika Apollo 11 mendarat di bulan pada tahun 1969, Neil Armstrong dan seluruh awak pertama yang pernah mendarat di bulan memakai sepatu boot yang dirancang dan diproduksi oleh AR Hyde & Sons.
Keterlibatan merek sepatu ini dalam sejarah lantas membawa kesuksesan mereka jauh melesat kedepan. Ketika mengetahui 1968 Saucony dijual, Abraham Hyde mempunyai kesempatan untuk mengambil hak untuk memproduksi, mendistribusikan dan menjual sepatu Saucony melalui tokonya di Cambridge.
Selang beberapa tahun kedepan, hasil jerih payah seorang Abraham Hyde melalui sepasang Saucony terbayar memalui gelar “Best Quality” yang di dapat dari majalah lokal.
Bertahun-tahun berperan sebagai penyedia sepatu untuk berbagai kalangan dan profesi, Saucony terus mempertahankan perkembangan yang baik, tidak hanya bergerak pada baris sepatu tetapi mereka terus memperluas ke dalam lini apparel.
Saucony juga memperkenalkan kemajuan teknologi, seperti dipatenkan “Grid” sistem. Fitur ini menjadi ciri khas mereka yang akan membuat sepatu jauh lebih ringan dan empuk. Penerapan teknologi yang mereka lakukan sekaligus menjawab untuk mempertahankan award yang sudah dipegang bertahun tahun.
Perpindahan tangan perusahaan ini terus berlanjut hingga akhirnya di tahun 2005 Stride Rite Corporation mengambil alih semua produksi dan hak Saucony Shoes sebelum menjualnya ke Payless ShoeSouce pada tahun 2007.
Dan kini melalui perjalanan yang berliku, terlibat dalam sejarah dunia, Saucony tumbuh besar menajdi salah satu perusahaan sepatu yang mampu bersaing dengan perusahaan besar lainnya.
Coba tengok beberapa sepatu yang berkolaborasi dengan label kenamaan lainnya. Tidak sedikit para sneakershead yang memburu merek ini untuk menambah koleksinya. Saucony X Bodega menjadi bukti kalau saat ini mereka tidak hanya menjadi produsen yang berperan dalam pemenuhan para olahragawan saja, melainkan mereka juga berperan besar dalam gaya masa kini.
http://kvltmagz.com/the-story-behind-saucony/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar