Jika dibandingkan dengan perusahan sepatu lainnya merek yang satu ini
jauh lahir lebih dulu dan menjadi salah satu produsen sepatu tertua
yang masih ada sampai detik ini. Sayangnya mereka yang yang sudah
melalui berbagai proses kurang lebih selama 111 tahun tidak terlalu
terdengar namanya dan justru seakan tenggelam di tengah pasar yang
menawarkan keindahan bentuk dan warna dari masing-masing sepatu yang
ditawarkan produsen lainnya.
Melihat jauh kebelakang, ketika tahun 1889, muncul empat pengusaha
dari Kutztown, Pennsylvania, yang bekerja sama untuk memproduseni dan
memproduksi sepatu untuk orang dewasa dan sneakers untuk anak-anak.
Nama
Saucony sendiri mereka pilih dan diambil dari nama penduduk asli Amerika yang memiliki arti
“mouth of a creek or river”. Karena keindahan kawasan disana, logo yang mereka ciptakan juga terinspirasi dari tepi sungai, logo
Saucony
dibuat siluet menukik yang menyerupai dengan aliran konstan di sungai.
Dan jika kamu melihat tiga potongan bulat di tengah logo, itu merupakan
batu-batu yang melapisi lantai sungai.
Setelah berjalan lancar dengan produksi sepatu dewasa dan sneakers
untuk anak, Saucony memperluas koleksinya dengan memperkenalkan sepatu
lari. Perjalanan mereka dalam meraih keberhasilan pun tidak lantas
semudah yang diperkirakan. Setelah bersenang-senang dengan yang mereka
hasilkan, keempat pengusaha tersebut justru memutuskan untuk menjualnya
kepada
Abraham Hyde yang pada saat itu dimiliki
AR Hyde & Sons.
Abraham Hyde adalah sosok penting selama perjalanan
Saucony
hingga saat ini. Ia merupakan imigran Rusia yang berpindah ke Amerika
Serikat dan mengambil tempat tinggal di Cambridge, Massachusetts sebagai
pembuat sepatu.
Pada tahun 1910, ia berhasil membuka toko sendiri di jalanan Cambridge
yang menjual jenis sepatu yang disebut “carpet slippers”, sepatu yang
dibangun dari potongan-potongan tua dan dari karpet yang sudah tidak
terpakai.
Setelah selama 22 tahun hanya bertahan dengan sepatu yang mengolah
bahan karpet tidak terpakain, Abraham memutuskan untuk melakukan sesuatu
yang lebih keren dari pada
“carpet slippers”. Hingga
pada akhirnya di tahun 1932 ia memperkenalkan sepasang sepatu kets yang
di mulai dari baris sepatu atletik dan sepatu bowling, sepatu roda
hingga sepatu bisbol di tahun 1938.
Memasuki era Perang Dunia II selama 40-an tentara AS terlibat di dalamnya,
Saucony juga ternyata turut andil dalam sejarah tersebut.
Abraham Hyde melalui
A.R. Hyde & Sons
ditugaskan oleh tentara AS untuk memproduksi sepatu bagi tentara dalam
perang. Meskipun perang adalah peristiwa misfortunate Abraham Hyde tetap
mampu untuk berbisnis menghasilkan keuntungan yang bagus pada waktu itu
melalui sepatu boot yang dibuatnya.
Selain ikut berperan besar dalam perang dunia II, NASA meminta
Abraham Hyde memproduksi sepatu untuk para astronot menuju ke kosmos.
Ketika Apollo 11 mendarat di bulan pada tahun 1969,
Neil Armstrong dan seluruh awak pertama yang pernah mendarat di bulan memakai sepatu boot yang dirancang dan diproduksi oleh
AR Hyde & Sons.
Keterlibatan merek sepatu ini dalam sejarah lantas membawa kesuksesan
mereka jauh melesat kedepan. Ketika mengetahui 1968 Saucony dijual,
Abraham Hyde
mempunyai kesempatan untuk mengambil hak untuk memproduksi,
mendistribusikan dan menjual sepatu Saucony melalui tokonya di
Cambridge.
Selang beberapa tahun kedepan, hasil jerih payah seorang Abraham Hyde melalui sepasang Saucony terbayar memalui gelar
“Best Quality” yang di dapat dari majalah lokal.
Bertahun-tahun berperan sebagai penyedia sepatu untuk berbagai
kalangan dan profesi, Saucony terus mempertahankan perkembangan yang
baik, tidak hanya bergerak pada baris sepatu tetapi mereka terus
memperluas ke dalam lini apparel.
Saucony juga memperkenalkan kemajuan teknologi, seperti dipatenkan
“Grid”
sistem. Fitur ini menjadi ciri khas mereka yang akan membuat sepatu
jauh lebih ringan dan empuk. Penerapan teknologi yang mereka lakukan
sekaligus menjawab untuk mempertahankan award yang sudah dipegang
bertahun tahun.
Perpindahan tangan perusahaan ini terus berlanjut hingga akhirnya di
tahun 2005 Stride Rite Corporation mengambil alih semua produksi dan hak
Saucony Shoes sebelum menjualnya ke Payless ShoeSouce pada tahun 2007.
Dan kini melalui perjalanan yang berliku, terlibat dalam sejarah
dunia, Saucony tumbuh besar menajdi salah satu perusahaan sepatu yang
mampu bersaing dengan perusahaan besar lainnya.
Coba tengok beberapa sepatu yang berkolaborasi dengan label kenamaan
lainnya. Tidak sedikit para sneakershead yang memburu merek ini untuk
menambah koleksinya.
Saucony X Bodega menjadi bukti
kalau saat ini mereka tidak hanya menjadi produsen yang berperan dalam
pemenuhan para olahragawan saja, melainkan mereka juga berperan besar
dalam gaya masa kini.
http://kvltmagz.com/the-story-behind-saucony/